Vinna Ho Kometmen Produksifitas Kacang lokal jadi Export

Malang, MSPI — Penanaman kacang tanah berkualitas, khususnya di tingkat nasional, harus memenuhi standar tertentu. Selama ini, kapasitas produksi kacang tanah lokal dinilai masih rendah. Rata-rata hasil panen petani kacang tanah hanya sekitar dua ton per hektare. Namun, di sini kami berupaya agar dalam satu hektare bisa menghasilkan sekitar 4–5 ton.

Untuk itu, tahap pertama yang kami lakukan adalah memperbanyak bibit unggul. Saat ini, tanaman yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jagung. Sementara kacang tanah belum banyak mendapat perhatian. Padahal, sejak tahun 1996 kami telah menjadi supplier kacang tanah ke berbagai pabrikan di seluruh Indonesia.

Namun kenyataannya, hampir 100% pasokan kacang tanah nasional masih bergantung pada impor dari India, Vietnam, China, dan Afrika. Ini cukup memprihatinkan karena angka impor kacang tanah terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring bertambahnya kebutuhan industri dan konsumsi rumah tangga.

Karena itu, kami bertekad menjadikan tanaman kacang tanah sebagai prioritas, dimulai dari pembibitan. Harapannya, ke depan kami bisa menyalurkan bibit unggul ke para petani nasional agar produktivitas kacang tanah dalam negeri bisa meningkat. Kami akan mendistribusikan dan menjual bibit ini secara luas sebagai bagian dari kontribusi kami mendukung program ketahanan pangan nasional.

Namun, kami juga berharap negara hadir untuk membantu kami mendapatkan akses pupuk dan insektisida yang lebih terjangkau. Saat ini, harga pupuk subsidi dan pupuk swasta memiliki selisih harga yang sangat tinggi, yang menjadi tantangan tersendiri.

Setelah memperoleh bibit unggul, tantangan selanjutnya adalah penyediaan pupuk yang memadai. Kami saat ini berperan sebagai pelaku perdagangan kacang tanah nasional maupun internasional. Namun, ada satu keprihatinan: harga kacang impor justru bisa lebih murah daripada harga kacang lokal, meskipun sudah dikenakan bea cukai dan pajak.

Selama ini, perhatian pemerintah dan breeder masih terfokus pada komoditas jagung dan kedelai. Oleh karena itu, kami memilih fokus pada pengembangan kacang tanah. Harapan kami, di lahan ini kami bisa memulai langkah awal dalam pengembangan pembibitan kacang tanah nasional.

Pernyataan ini disampaikan oleh Vinna Ho selaku pengelola lahan dari PT Prime 4.0.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, menyampaikan bahwa dari total 20,5 hektare lahan milik SAE L’SIMA, sebanyak 11,3 hektare telah dimanfaatkan untuk berbagai kerja sama dengan kampus dan swasta. Sedangkan 8,7 hektare lainnya telah disiapkan khusus untuk pengembangan kacang tanah, yang nantinya hasilnya akan dipasok ke industri nasional seperti PT Garuda Food dan PT Dua Kelinci.

“Kami berkomitmen menjadikan SAE L’SIMA sebagai lumbung ketahanan pangan Pemasyarakatan Jawa Timur. Ini janji kami,” kata Kadiyono.

Penandatanganan PKS ini disaksikan langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto, dan merupakan kerja sama strategis untuk menjadikan SAE L’SIMA sebagai pusat perbenihan nasional sekaligus lumbung ketahanan pangan Pemasyarakatan.

Selain Prime 4.0, kerja sama ini juga melibatkan Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, serta sejumlah perusahaan nasional lainnya.
(SH)

Next Post

Jamaah Umroh Desa Gampingan Terima Pembekalan dan Koper Perlengkapan

Sel Agu 5 , 2025
Malang, MSPI — Pemerintah Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, kembali melanjutkan komitmennya dalam melayani masyarakat melalui program Umroh Gratis. Sebanyak 56 calon jamaah akan diberangkatkan pada tanggal 5 November 2025 mendatang, dengan pelaksanaan manasik umroh dan pembagian koper yang digelar pada Minggu, 3 Agustus 2025, di Kantor Desa Gampingan. […]

You May Like

Media Saber Pungli Indonesia